Ga Sabaran

Well, mungkin itu dua kata yang pas banget mengambarkan diri saya.
Sebagai psikolog, tentu saya tau bahwa ga bijak rasanya untuk melabel diri sendiri, terutama untuk dua kata yang bernuansa “negatif” di atas. Tapi di sisi lain, saya juga tau diri. Betapa sering kalimat meminta saya untuk sabar itu dilontarkan oleh orang-orang terdekat saya.

"Sabar Mel…"

"Ce, sabar ce…"

"Sabar dikit kenapa sih Kakak?"

Dsb.

Dsb.

Saya berusaha mengingat, ternyata kesabaran saya yang tipis ini bukan dalam kondisi menunggu, melainkan lebih banyak terjadi ketika kondisi tubuh saya sedang aktif-aktifnya. Saya tau, saya paham sekali, dan saya sering menyampaikan teori ini: semua itu butuh proses.

Sayangnya, saya bukan jenis orang yang setia dengan proses. Kalau ga kepaksa, hehehe

Saya ini maunya banyak.
Mimpinya banyak.
Tapi sering banget ngerjain sesuatu hal ga sampe selesai.

*sigh*

Saya sering membalik bab terakhir buku yang saya baca disaat saya baru aja ngebaca seperempatnya.
Saya suka ngerasa “capek” di tengah mengerjakan sesuatu dan kemudian meninggalkan pekerjaan itu.
Saya suka bosan dengan rutinitas belajar yang saya lalui, apalagi kalau tiba-tiba ngerasa: “udah tau”.

Yap, saya sadar kalau harus belajar lagi kali ini, untuk setia dengan proses. Untuk nyelesaiin kerjaan saya satu persatu. Seperti pelajaran dalam buku The Habits yang saya baca, satu kebiasaan kecil yang rutin akan mampu berpengaruh besar dalam kehidupan. Mungkin bagi saya saat ini adalah kebiasaan menyelesaikan apa yang sudah saya mulai. Setia dengan tiga buah “to-do-list” setiap harinya. Setia dengan proses.

Pada akhirnya saya semakin menyadari, bahwa dalam bentuk apapun, sabar itu emang susah, soalnya hadiahnya surga. Coba kalau gampang, hadiahnya kipas angin.

Thought via Path

"Bertarunglah satu ronde lagi! Setelah kaki Anda begitu kelelahan sehingga harus berjalan tersaruk-saruk ke tengah ring, bertarunglah satu ronde lagi. Setelah lengan Anda begitu berat sehingga tak sanggup mengangkatnya untuk membuat pertahanan, bertarunglah satu ronde lagi. Setelah hidung Anda berdarah, mata lebam, dan begitu kehabisan tenaga sehingga mengharapkan lawan menghantam rahang dan menidurkan Anda, bertarunglah satu ronde lagi. - Mengingat bahwa orang yang bertarung satu ronde lagi, tidak pernah bisa dikalahkan."

James J. Corbett, Juara Tinju Kelas Berat Dunia. – Read on Path.

You are the person that I don’t need to talk to every single day. We don’t need to talk to each other for weeks. But when we do, it’s as if we’d never stopped talking.

Happy birthday Dear.. I love you. with Rima – View on Path.

You are the person that I don’t need to talk to every single day. We don’t need to talk to each other for weeks. But when we do, it’s as if we’d never stopped talking.

Happy birthday Dear.. I love you. with Rima – View on Path.

Thought via Path

"Niatkan hidupmu utk Allah, maka orang-orang yang kau temui pun atas izin-Nya," begitu bunyi doa yang diucapkan Mak Bo di telingaku di ulang tahun yang ke 24.

Hari ini makin menyadari makna ucapan itu.. Merindu sahabat-sahabat yang pernah bareng sama-sama dari suatu waktu sampe hari ini tetep saling ketemu dalam doa.. Aaah.. Edisi lebaran masih kan ya.. Semoga kita menjadi orang-orang yang meraih kemenangan..

*peluk satu-satu* – Read on Path.