“I’m Yours”
You touch these tired eyes of mine
And map my face out line by line
And somehow growing old feels fine
I listen close for I’m not smart
You wrap your thoughts in works of art
And they’re hanging on the walls of my heart
I may not have the softest touch
I may not say the words as such
And though I may not look like much
I’m yours
And though my edges may be rough
I never feel I’m quite enough
It may not seem like very much
But I’m yours
You healed these scars over time
Embraced my soul
You loved my mind
You’re the only angel in my life
The day news came my best friend died
My knees went week and you saw me cry
Say I’m still the soldier in your eyes
I may not have the softest touch
I may not say the words as such
And though I may not look like much
I’m yours
And though my edges may be rough
I never feel I’m quite enough
It may not seem like very much
But I’m yours
I may not have the softest touch
I may not say the words as such
I know I don’t fit in that much
But I’m yours

kau datang dan jantungku berdegup kencang
kau buatku terbang melayang
tiada ku sangka getaran ini ada
saat jumpa yang pertama
mataku tak dapat terlepas darimu
perhatikan setiap tingkahmu
tertawa pada setiap candamu
saat jumpa yang pertama
could it be love, could it be love
could it be, could it be, could it be love
could it be love, could it be love
could this be something that i never had
could it be love - Raisa
Minggu sore, saat yang paling nikmat untuk melepas penat. Bersantai bersama buku-buku dan panasnya coklat, ku tengarai menjadi penyebab aku tak keluar kamar sepanjang hujan lebat. Mataku masih terpaku pada sejumlah kalimat-kalimat, yang mengantarkan pada himpunan imajinasi yang saling bekelebat.
Cinta dalam Diam
Ketika kau membaca judul di atas, apa yang kau pikirkan? Cinta yang malu-malu, tak berani untuk bersuara? Ciri khas cinta sepihak. Bertepuk sebelah tangan kata mereka, padahal tak ada tepukan dalam cinta. What did you expect? Standing applause in the name of love?
Lupakan itu semua!
Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih, untuk setiap mereka yang mencintaiku dalam diamnya; yaitu cinta yang terkadang lupa untuk terucap tapi selalu tertampak.

I Won’t Give Up - Jason Mraz
When I look into your eyes
It’s like watching the night sky
Or a beautiful sunrise
Well there’s so much they hold
And just like them old stars
I see that you’ve come so far
To be right where you are
How old is your soul?
I won’t give up on us
Even if the skies get rough
I’m giving you all my love
I’m still looking up
And when you’re needing your space
To do some navigating
I’ll be here patiently waiting
To see what you find
‘Cause even the stars they burn
Some even fall to the earth
We’ve got a lot to learn
God knows we’re worth it
No, I won’t give up
I don’t wanna be someone who walks away so easily
I’m here to stay and make the difference that I can make
Our differences they do a lot to teach us how to use the tools and gifts
We got yeah we got a lot at stake
And in the end, you’re still my friend at least we didn’t tend
For us to work we didn’t break, we didn’t burn
We had to learn, how to bend without the world caving in
I had to learn what I got, and what I’m not
And who I am
I won’t give up on us
Even if the skies get rough
I’m giving you all my love
I’m still looking up
I’m still looking up
I won’t give up on us
God knows I’m tough, he knows
We got a lot to learn
God knows we’re worth it
I won’t give up on us
Even if the skies get rough
I’m giving you all my love
I’m still looking up
Waktu hampir menunjukkan pukul enam. Langit masih cerah di sore itu. Selagi makan di pinggiran jalan, lamunanku tiba-tiba teringat percakapan kita semalam. Kuning awan petang di Kuningan menantangku untuk bermain kata di dalam rangkaian drama. Inilah yang menjadikan hidup senantiasa bergembira, dalam raung kebahagiaan yang serupa bintang.
Senja tak pernah secerah ini. Kata-kataku mulai menari-nari menghampiri. Dalam penantian menunggu pesanan makan di angkringan datang. Otakku yang sedari tadi melamunkan sepi, mendadak berpendar merekam tiap detil perbincangan kita semalam, terbayang gemas jika membahas tentang bola dan kekonyolan yang dibawa karenanya.
Suatu hari, aku hendak membujukmu yang telah membeku, gara-gara ucapan ketusku di linimasa saat itu, setelah sebelumnya kau merendahkan klub bola favoritku. Padahal kau tahu, dalam hidupku, Football adalah F kedua setelah Family dalam prioritas hidup yang kusayangi.
——-
“PING!”
“PING!”
“Haloo haloo… Maafkan aku tadi menegurmu Din, kau taulah aku tak pernah benar-benar serius jika mengatakan sedang tidak mood”
Hening lima menit.
Sepuluh sampai lima belas menit kemudian sama saja. Tatapan nanarku ke dalam layar melihat pesan yang masih berstatus “D” alias “Delivered”.
Aku tau mungkin percuma saja memberitahukan yang sebenarnya, karena nantinya aku juga yang akan diterkam kemarahannya. Tapi aku tak mau menyerah, meski ditolak dari berbagai arah. Lalu kuganggu lagi dirimu dengan sebuah pesan yang terkirim kembali.
“Semakin kau mengacuhkanku, semakin aku tak merasa tenang, dan bersalah seperti langit yang tak kuasa menahan hujannya mengguyur rumah-rumah orang-orang susah.”
Akhirnya pesan balasan yang kutunggu perlahan datang, tak kalah ketusnya.
“Sudahlah Mas, aku letih. Aku sengaja tak mengindahkan kesabaranmu, agar kau juga tau rasa. Aku hanya mencoba bermain kata, lalu kau datang dengan mood yang tak pernah kau jaga. Menulis semena-mena, yang kuartikan sebenarnya.”
“Dengarkan penjelasanku dulu Din, kau terlihat ngambeg seperti wanita tua yang sedang PMS jika seperti ini”
“Kini kau mengataiku wanita tua? Apakah tidak sekalian kau katakan aku ini mirip nenek sihir yang dikutuk PMS sepanjang masa? Lalu akan kusihir kau menjadi tembikar yang menyedihkan di ujung sana!”
Kamu ternyata tak mau mengalah.
“Tahukah kau, berpura-pura dewasa, padahal hanya karena sebuah pertandingan bola saja, mood-mu yang kau banggakan itu dengan mudahnya berubah. Labil seperti anak kecil. Seperti perempuan muda yang merengek jika ditinggal cintanya,” lanjutmu melanjutkan kesal.
Aku terdiam, seperti tersesat dalam pelangi yang kubuat.
“Jadi kita sekarang berperang? Apa medannya? Kau pikir dengan mudahnya menghujamiku dengan kata-kata tanpa pernah merasa, aku dulu terlahir dari sajak kembar siam.” Sahutku tak mau kalah.
Lalu kamu datang lagi.
“Aku lelah menanggapimu Mas!! Rasanya seperti bermain di taman labirin yang tak pernah bermuara pada apapun, tak pernah mudah kuduga setiap perhentiannya.”
“DINDA? Semudah itu kau lelah?”
“Apa MAS? Masih mau menyangkalnya juga?” Teriakmu dari ujung pesan di sana.
“Kupikir kamu terbuat dari anyaman permen lollipop yang disepih di khayangan, jadi tak mudah tersinggung saat aku merajuk dan melucu seperti badut impian,” aku meracau.
Kembali kamu menulis kalimatmu.
“Ohhh, jadi kini kau merayuku? Dengan kata-kata gombalan sampah terhebatmu? Keluarkan semua sajakmu tentang senja dan hujan itu, aku tak mau tau. Pergilah sesuka hatimu!!”
“Oh ya, asal kau tahu,” lanjutmu, “aku tak mudah memaafkan sesuatu, meskipun aku menyukai dongeng kita. Tapi sebuah kekacauan kecil bahkan bisa mengubah segalanya. Waktu mengubah sesuatu sesuka hatinya.”
“ Ohhh baiklaahh Din, kini kau anggap racauanku hanyalah sampah yang tak perlu… Lihat saja! Lihat saja! Kupastikan kau menyesal karena menolak ajakan berdamaiku.”
“Seperti rembulan yang segera ditelan oleh awan hitam, disekelilingmu!” Tambahku dengan geram.
“ Jadi kau mengancamku Mas? Kau pikir waktu akan berdiri di sampingmu, membantumu memanfaatkan waktu luangmu? Untuk merajuk meminta penjelasanku? Tak pernah Mas, tak pernah… aku tak pernah luluh semudah itu.”
“Oh ya, masih banyak yang harus kupikirkan selain meladeni racauanmu saat ini.” Sambungmu cepat.
“Kau kenapa seperti ini sih Din? Kau salah jika menilaiku secepat itu, kita masih dalam titik kulminasi emosi yang sama tingginya!”
Hening sebentar lagi… kutunggu dua menit yang sunyi.
“Jadi akhirnya, kau masih tak memaafkanku? Meskipun aku saat ini mungkin saja berada di depan pintu kamarmu membawakan coklat tiga rasa yang selalu kau idamkan selama ini?”
“Coklat.. Coklat..Coklatt… Kau kira semua wanita mudah bergembira dikasih coklat?”
“Kau tak pernah belajar memahami Mas, kekesalan dan keletihan terkadang selalu membutuhkan ruangnya sendiri untuk dimengerti.”
“Hmmm, baiklah…. Untuk kesekian kalinya aku meminta maaf, MINTA MAAF…. Aku pada akhirnya akan menerima saja, apapun keputusannya.”
“Tapi asal kau tahu saja, sebanyak pasir di pantai itulah, aku ingin melihatmu tersenyum kembali Din,” Sambungku.
“Kini kau merayuku tanpa henti! Entah berapa banyak wanita diluar sana yang kau perlakukan serupa Mas.”
“Mungkin harus kujejalkan sesuatu, kertas-kertas laporanku ini ke dalam pikiranmu, agar tak mudah membuat rangkaian kata-kata manis yang terucap dengan mudah di bibirmu!” Ujarmu ketus berlebihan.
“Baiklah jika itu membuatmu bahagia, aku rela meskipun ruang di kepalaku tak lagi berjejal rapih kenangan tentangmu,” jawabku.
“Baiklah. Kalau kau tak kemari dalam 30 menit, kata maaf ini akan kusebarkan di sepanjang perjalanan pulang, sambil mengutuki namamu agar menjadi debu dalam lemari ingatanku.”
——-
Seperti inilah percakapan yang bergaung diantara kepalaku saat itu. Mungkin terkesan terlalu berlebihan, tapi biarlah, setiap kata selalu memberikanku makna lebih, aku hanya berusaha mewujudkannya saja dalam rangkaian kalimat.
Tulisan ini hanya sebagian kecil dari medan peperangan kata-kataku denganmu. Sebab kamu adalah teman yang hebat dalam urusan mencipta sajak, meskipun kusadari atau tidak, kamu sebenarnya terbuat dari embun pagi yang kesederhaaannya mampu meluruhkan tiap penat.
Padahal kenyataannya, aku adalah salah satu dari sahabat yang tak pernah melihatmu dirundung amarah, apalagi hanya karena permasalahan kecil. Kamu memang tak pernah benar-benar marah dalam sesuatu hal yang berujung sia-sia belaka. Menoreh merah dan membumbui luka hanya akan kamu sampaikan saat ada yang mengganggu senjamu. Jadi, selamat menikmati hutang ceritaku padamu saat ini.
Sampai ketemu kembali, dalam sesuatu yang bersembunyi di laci memori.
Kuningan, 9 Februari 2012
*Tulisan di atas ini adalah hasil karya seorang sahabat, Harryka Joddy, sebagai wujud pembayaran ‘taruhan’ atas pertandingan Juventus Vs AC Milan tadi malam. (with my editing, of course :p)
Awalnya cuma mendung. Saat liburanku diawal tahun, membawa cerita tentang Hari Raya Imlek di kampung. Sebelum kembali ke Solo, kereta yang kutumpangi membawaku kembali merayapi dinginnya sebuah kota. Yang penuh nostalgia. Itulah Jogjakarta. Bukan hanya sebuah kota, tapi Jogja juga kenangan. Yang…